INTERNET MARKETER, ABIS ITU NGAPAIN?

Semua profesi, asalkan halal adalah bagus. Hanya saja, ada profesi yang disebut ‘profesi transisi’. Salah satu profesi ‘underground’ yang banyak mewabah di Indonesia adalah Internet Marketer (IM). Jangan anggap remeh IM Indonesia. Penghasilan mereka sudah banyak yang mencapai ratusan juta, bahkan miliaran perbulan. Namun karena pergerakan mereka di luar negeri, maka nyaris tak tercium ‘bau duitnya’ di Indonesia. Terlebih lagi, mereka adalah pemasar ‘affiliate’ dan dropship, yang sebagian besar tak menggunakan nama pribadi untuk memasarkan.

Beberapa IM yang saya temui, masih berusia 19 hingga 30 tahun, penghasilannya mengalahkan direktur perusahaan multinasional atau BUMN. Penampilan tetap sederhana, mobil biasa saja, bahkan masih ada yang naik taksi dan motor. Mereka sudah di jalan yang benar, hanya kebingungan, selanjutnya apa? Saran saya, analisa dulu potensi dirimu, kelebihan dan kekuranganmu. Dari situlah kamu bisa memaksimalkannya. Berikut adalah alternatif langkah selanjutnya untukmu, IMers Indonesia.

Dari ‘S’ ke ‘I’ atau ke ‘B’ ?

Masih ingat 4 kuadran Kiyosaki? IM adalah profesi Self Employee (S), penghasilannya tergolong Active Income, kerja dapat duit, gak kerja gak dapat duit. Untuk mengubah penghasilan seorang IM menjadi Passive Income, alias gak kerja tetap dapat duit, maka dia harus lompat ke Business-owner (B) atau Investor (I). Otomatisasi hanya bersifat sementara, jika tak di-leverage dengan organisasi dan sistem.

Kebanyakan IM, dari ‘S’ lompat ke ‘S’ lagi, seperti trainer, optimizer, atau tetap di dunia affiliate. Gak jadi masalah, tinggal mainkan saja di investasi, seperti:

+ Beli properti, sewakan.

+ Beli franchise yang auto pilot.

+ Patungan jadi angel investor.

Yang penting jangan jadi rentenir, hehe.

Seperti kawan dan mentor saya, Rully ‘The Legend’ Kustandar, dia lebih memilih tetap di ‘S’ dan berinvestasi di beberapa bidang, emas adalah primadonanya. Karena dia menyadari ‘sepaket’ kelebihan dan kekurangan dirinya, maka dia dapat memaksimalkan potensinya. Jangan berusaha menjadi orang lain, fokuslah pada kekuatanmu, itulah kuncinya.

Jalan lain lompat ke kuadran ‘kanan’ (passive income) adalah dengan membangun bisnismu. Seorang IM, sejatinya sudah berada di jalan yang benar. Mahir memasarkan adalah kunci utama dalam berbisnis. Apalagi jika database konsumen dan perilakunya sudah ditangan, tinggal analisa, bangun dan besarkan brand sendiri.

Misalnya saat ini profesimu adalah dropshipper atau affiliate suatu produk dan suatu saat ingin menjadi pengusaha, saran saya fokuslah ke satu target pasar. Puaskanlah pelangganmu, bukan jualan Hit and Run. Kredibilitas adalah kunci membangun bisnis yang langgeng.

Setelah terbaca kontinuitas pembelian suatu produk, cobalah untuk berjualan dengan merekmu sendiri. Tak perlu produksi sendiri, bahkan sebaiknya outsource ke produsen saja. Produk bisa jadi yang serupa atau pelengkap. Orang yang maniak koleksi sepatu, biasanya juga kolektor tas, itu namanya pelengkap.

Tetaplah berjualan merek orang lain sebagai penghasilan utama (sapi perah), sembari membangun merek bisnismu (bintang). Hingga suatu saat ‘siap dipanen’, maka fokuslah membesarkan merekmu saja. Jika jualanmu bermacam-macam produk untuk target pasar yang sama, maka bangunlah nama tokomu (brand[dot]com). Seperti kawan saya, Arief Theofilus Setyadi, seorang veteran Internet Marketer yang berevolusi menjadi brand owner Jocelyns.co.id.

Paham? Ada pertanyaan? Yuk mulai bangun brand bisnismu sendiri, untuk tabungan hari tuamu dan warisan anak cucumu.
mas jay